|
Salam Jumpa Bapak/Ibu Pemerhati Manajemen Pembiayaan Kesehatan. Kami sajikan beberapa Artikel/ Jurnal/ Berita dan Agenda sebagai berikut. |
|
Mengatasi Pembiayaan Perawatan Kesehatan Primer yang Tidak Memadai dan Terfragmentasi
Pengeluaran Kesehatan Pemerintah dan Harapan Hidup
Reportase Kegiatan beban Pembiayaan Kesehatan Lansia dan Tantangan Keberlanjutan Sistem Perlindungan Finansial
Layanan Perawatan Berbasis Komunitas sebagai Strategi Cost Effective Menekan Kunjungan Rawat Jalan Lansia di Perkotaan Tiongkok
Pengelolaan Strategis Efisiensi Anggaran Kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional Indonesia
Pemantauan Tren dan Pengeluaran Obat untuk Penyakit Langka
Keuangan rumah sakit, kualitas layanan dalam perawatan rumah sakit, dan sistem asuransi kesehatan nasional Indonesia
Bisakah Indonesia Mencapai Cakupan Kesehatan Universal?
Penelitian Ekonomi Kesehatan dan Hasil Penggunaan Alat Kesehatan
Dampak Pajak Minuman Berpemanis Gula terhadap Obesitas dan Kondisi Kesehatan Terkait Obesitas
|
Peningkatan perawatan kesehatan primer (public health care/PHC) sangat penting untuk mencapai cakupan kesehatan universal, dengan pembiayaan yang efektif memainkan peran kritis dalam kesuksesannya. Meskipun penekanan pada investasi PHC semakin meningkat, memastikan pembiayaan publik yang berkelanjutan tetap menjadi tantangan besar di negara-negara kawasan Asia Tenggara. Studi ini memberikan gambaran umum tentang skema pembiayaan PHC di Bangladesh, Indonesia, Maladewa, dan Nepal, dengan menyoroti tantangan utama di empat negara tersebut. Sumber data meliputi tinjauan dokumen (87 dokumen dari empat negara) dan wawancara dengan narasumber kunci (21 total). Temuan ini menyoroti pendekatan yang beragam dalam pembiayaan PHC di empat negara tersebut, yang menonjolkan tantangan umum dan spesifik negara. Temuan peneliti menunjukkan bahwa meskipun PHC telah mendapatkan lebih banyak perhatian dalam agenda kebijakan, fungsi pembiayaan PHC yang mendasar masih menghadapi banyak tantangan. Beberapa kendala berasal dari model pembiayaan kesehatan yang ada di negara-negara tersebut, menunjukkan kebutuhan untuk reformasi yang ditargetkan.
Harapan hidup secara luas diakui sebagai indikator fundamental kesehatan populasi, dan peningkatannya sering dikaitkan dengan pengeluaran kesehatan pemerintah,
Sebagai bagian dari rangkaian
Saat ini, terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia di berbagai negara. Seiring dengan adanya tren penuaan penduduk, kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan lansia juga mengalami peningkatan, salah satunya pada pelayanan rawat jalan. Penelitian Chen et al. (2026) mengkaji mengenai layanan perawatan lansia berbasis komunitas (community-based elderly care services) berkontribusi terhadap pola utilisasi atau pemanfaatan layanan perawatan lansia di wilayah perkotaan Tiongkok. Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis probabilitas dan frekuensi kunjungan rawat jalan terkait dengan partsipasi dalam berbagai aktivitas layanan perawatan lansia berbasis komunitas
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) merupakan pilar utama dalam mewujudkan kesehatan masyarakat yang adil, namun implementasinya masih menghadapi hambatan berupa akses yang tidak merata terhadap layanan kesehatan, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, dan pembiayaan yang tidak efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan utama dalam implementasi SKN di Indonesia, merumuskan strategi yang relevan untuk mengatasinya, serta menganalisis efektivitas dan efisiensi anggaran kesehatan nasional dalam kerangka kebijakan berbasis kinerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui tinjauan literatur dengan sumber data meliputi peraturan pemerintah, laporan resmi, dan publikasi internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SKN masih dibatasi oleh tata kelola yang terfragmentasi, alokasi yang rendah untuk upaya promotif-preventif, dan dominasi pengeluaran kuratif. Namun, peluang untuk memperkuat sistem kesehatan terdapat melalui enam pilar transformasi kesehatan, termasuk penguatan layanan primer, peningkatan layanan rujukan, ketahanan sistem, reformasi pembiayaan, pengembangan sumber daya manusia, dan digitalisasi kesehatan. Pembahasan menekankan pentingnya mengarahkan ulang prioritas anggaran, meningkatkan akuntabilitas kinerja, dan mendiversifikasi sumber pendanaan untuk mendukung pencapaian Cakupan Kesehatan Universal (UHC) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Studi ini menunjukkan bahwa optimasi anggaran berbasis kinerja, tata kelola yang kuat, dan diversifikasi sumber pendanaan merupakan kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengeluaran untuk obat-obatan langka di Italia mengalami peningkatan yang signifikan. Analisis ini bertujuan untuk memperkirakan pengeluaran masa depan untuk obat-obatan penyakit langka (rare disease/ RD) di Italia. Hasilnya menyoroti dampak finansial yang semakin besar dari obat-obatan langka terhadap anggaran kesehatan Italia. Analisis ini memberikan proyeksi kuantitatif tentang sumber daya yang diperlukan untuk memastikan akses berkelanjutan terhadap terapi inovatif untuk penyakit langka.
Program Asuransi Kesehatan Nasional (AKN) Indonesia merupakan langkah penting menuju pencapaian Cakupan Kesehatan Universal (CKU). Meskipun program ini telah berhasil memperluas akses layanan kesehatan, program ini menghadapi tantangan yang signifikan terkait keberlanjutan keuangan, yang secara langsung mempengaruhi operasional rumah sakit dan kualitas layanan. Setelah diperkenalkannya program JKN, banyak rumah sakit mengalami tekanan keuangan, terutama akibat penundaan pembayaran klaim dan tingkat penggantian yang dianggap tidak memadai. Batasan keuangan ini menyebabkan pengurangan investasi dalam pengembangan tenaga kerja, teknologi medis, dan infrastruktur. Hubungan positif teridentifikasi antara kesehatan keuangan rumah sakit dan kualitas pelayanan yang diberikan. Kesuksesan program JKN di masa depan sangat bergantung pada kemampuannya untuk memastikan kelayakan keuangan rumah sakit dan penyediaan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi. Kegagalan dalam menjaga keseimbangan ini dapat mengganggu efektivitas sistem kesehatan secara keseluruhan.
Penelitian hasil penggunaan alat kesehatan selalu tertinggal dibandingkan dengan obat-obatan, dan hal ini memiliki alasan yang kuat. Inisiatif regulasi dan penggantian biaya untuk alat kesehatan akan mendorong permintaan yang lebih tinggi terhadap data berkualitas tinggi, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas penelitian hasil penggunaan alat kesehatan. Misalnya, FDA baru-baru ini menerbitkan beberapa pedoman/kerangka kerja terkait penggunaan Bukti Dunia Nyata (RWE) untuk mendukung pengambilan keputusan regulasi terkait obat-obatan, produk biologis, dan alat kesehatan. Meskipun RWE semakin banyak digunakan untuk obat-obatan dan produk biologis, mungkin ada beberapa tantangan unik dalam menghasilkan RWE, khususnya untuk perangkat medis. Hal ini pada gilirannya menciptakan hambatan potensial terhadap penggunaan yang lebih luas dari RWE untuk perangkat medis. Selain itu, keragaman masalah metodologis yang terkait dengan pelaksanaan penelitian hasil di bawah payung perangkat medis, dengan produk yang bervariasi dari diagnostik hingga perangkat implan, membuat sulit untuk mengembangkan seperangkat standar yang menyatukan untuk industri ini. Akibatnya, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengeksplorasi peluang dan tantangan penelitian hasil kesehatan yang luas dalam perangkat medis dari perspektif semua pemangku kepentingan yang relevan. Jika kita ingin mewujudkan potensi penuh penelitian hasil kesehatan dalam perangkat medis, kita harus mengatasi kebutuhan yang belum terpenuhi dalam perawatan kesehatan di mana penggunaan perangkat medis dapat berdampak positif pada kualitas, akses, dan biaya.
Pajak minuman berpemanis gula (SSB) telah diterapkan di berbagai wilayah sebagai strategi kesehatan masyarakat untuk mengurangi obesitas dan penyakit kronis terkait. Meskipun penelitian sebelumnya telah mengkaji efektivitas pajak ini, temuan mengenai dampaknya terhadap hasil kesehatan jangka panjang masih beragam. Studi ini menilai dampak pajak sirup minuman ringan yang diberlakukan di Negara Bagian Washington pada 2009 terhadap prevalensi obesitas dan kondisi kesehatan terkait. Studi ini meminimalkan bias seleksi dan efek pembelian lintas batas, sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas kebijakan tersebut.

























