Hari 1 - Concurent Session 1

The 11th World Congress of International Health Economics Assossiation (iHEA)

 

BIAYA KATASTROPIK

SESI :  HIGH NEED PATIENTS / BIAYA KATASTROPIK
By: Yulita Hendrartini


Sesi ini membahas tentang pembiayaan untuk pasien yang memakan biaya besar seperti untuk kasus operasi jantung, pasien usia lanjut dan pasien katastrofik. Ada 3 pembicara untuk sesi ini, awalnya rencana akan ada 4 pembicara. Satu pembicara dari Mayo Clinic tidak dapat hadir. Sesi dipimpin oleh bapak Health Economic yang selama ini saya kenal dari beberapa tulisannya : Charles Norman.

 Pembicara pertama  Soren Rud Kriten dari University of Manchester, UK membahas topik yang sangat menarik khususnya jika kita kaitkan dengan Implementasi sistem INA CBG di Indonesia.  Judul makalahnya : Financial Incentives to Reduce Adverse Events in Hospital. Salah satu reformasi yang dilakukan oleh Inggris dalam sistem pembayaran DRG adalah komplikasi dan penyakit penyerta (komorbiditas) yang tidak ditulis di awal (pada saat admission) tidak dibayar. Sebelum reformasi tetap dibayar, asumsinya karena komplikasi mungkin terkait dengan kualitas pelayanan yang kurang baik jadi tidak dibayar. Misalnya gunting tertinggal, adanya emboli udara, salah golongan darah dalam transfusi, infeksi nosokomial dan lain-lain. Dengan menganalisis data klaim bedah jantung sebelum reformasi (2002 – 2008) dan setelah reformasi (2009 -2012) menunjukkan bahwa setelah reformasi terjadi penurunan klaim (efisiensi) dan terjadi perbaikan kualitas pelayanan kesehatan. Selain itu ada penurunan adverse event dan komplikasi treatment. Kesimpulannya setelah penerapan reformasi dalam sistem pembayaran provider, adverse event di rumah sakit dapat diturunkan.

Pembicara ke 2 : Lorna Loe  dari Ireland, membahas tentang pola pemanfaatan pelayanan kesehatan bagi usia lanjut (usila) (>65 th) yang rentan. Penelitian ini terkait dengan disertasinya yang dibimbing juga oleh Charles Norman. Penelitian ini mencoba mengungkap kebutuhan pelayanan rumah apa yang dibutuhkan oleh kelompok usia lanjut yang bertujuan untuk mengurangi biaya akibat pemakaian rumah sakit oleh usia lanjut. Biasanya perawatan usila ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar di rumah sakit. Beberapa jenis pelayanan rumah yang diidentifikasi antara lain : public health nurse, social worker, fisioterapi, konseling psikologi, personal care, kursi roda, hearing aid dan seterusnya. Dengan metode latent analysis dapat diprediksi kebutuhan perawatan usila berdasarkan karakteristiknya, karakter yang hospital oriented, community oriented, dan yang tidak menggunakan pelayanan. Hasil kajian ini diharapkan dapat untuk merencanakan kebutuhan pelayanan bagi usila yang lebih tepat dan mengajak swasta untuk ikut berperan menyediakan pelayanan, sehingga dapat menurunkan biaya di rumah sakit.

Pembicara ke 3, Florian Buchner membicarakan tentang High Cost cases and the German Risk adjustmen. Isu yang dibahas dalam topik ini adalah kemampuan sickness fund (badan penyelenggara asuransi) memprediksi klaim biaya yang besar (katastropik). Analisis ini  memperkenalkan model pool dana untuk penyakit penyakit katastropik yang berbiaya besar  yang dihubungkan efeknya  dengan Hierarchical Morbidity Group (HMG).

Lesson learnt yang bisa diambil dari sesi ini adalah :

(1)  DRG system saja tidak cukup untuk untuk mendorong efisiensi dan peningkatan kualitas, harus ada strategi lain dalam mengendalikan biaya pelayanan kesehatan karena pembayaran DRG tidak dapat mengurangi admission pasien. Hal ini tampaknya yang harus dilakukan oleh Indonesia untuk mengurangi moral hazard dan potensial fraud akibat adanya upcoding dalam klaim pasien JKN.

(2) perlunya perencanaan kebutuhan kesehatan usila mengingat populasi kelompok usila ini semakin besar dari tahun ke tahun. Tiap karakteristik usila membutuhkan pendekatan dan pelayanan kesehatan yang berbeda. Dengan memahami pola pemanfaatan dan karakteristik usila, kita bisa lebih efektif dan efisien dalam merancang kebutuhan bagi usila di masa yang akan datang -> termasuk bagaimana mengajak peran swasta untuk memenuhi kebutuhan ini. Usila di perkotaan dan di pedesaan, usila yang mandiri atau usila yang hidup bersama anaknya atau keluarganya dan usila yang fanatik dengan dokter primernya akan memiliki kebutuhan pelayanan yang berbeda.

(3) Perlunya badan penyelenggara asuransi untuk melakukan pool dana khususnya untuk klaim klaim berbiaya besar.

HOSPITAL PAYMENT

SESI :  HOSPITAL PAYMENT
By: Yulita Hendrartini


Sesi ini membahas tentang metode pembayaran prospektif, khususnya Diagnosis Related Groups (DRG) dan global budget untuk pengendalian biaya di Rumah sakit. Sepertinya berbagai negara cukup kerepotan dalam pengendalian biaya di rumah sakit. Terbukti bahwa penerapan DRG tidak mampu menahan laju kenaikan biaya kesehatan. Berbagai aspek digali terkait dengan penerapan Prospective Payment System (PPS) di RS.

Ada 4 pembicara dalam sesi ini. Pertam,a Karoline Mortensen dari United States, yang membahas tentang Global budget and ambulatory care sensitive conditions in Maryland Hospital. Sejak tahun 2012, sistem pembayaran RS di Maryland berubah dari per inpatient admission menjadi per capita total hospital, dengan kenaikan per tahun sekitar 3,8 %. Sistemnya adalah dengan mengaitkan sistem pembayaran global ini dengan jaringan pelayanan primernya, khususnya untuk mendorong promotif yang lebih baik. Tujuan risetnya untuk mengkaji Total Patient Revenue (TPR) dikaitkan dengan Preventive Quality Indicator yang sudah dibuat oleh AHQR. Hasilnya menunjukkan adanya skor kualitas pelayanan preventive yang lebih baik dengan penerapkan global budget yang mengaitkan dengan pelayanan ambulatory.

Pembicara ke-2, Phillipe Widmer membahas tentang reserve capasity yang pada berbagai RS di Swiss yang menerapkan prospective payment. Judul makalahnya : Choice of Reserve Capasity with Uncertain Demand. Reserve capasity yang dimaksud adalah biaya cadangan. Seperti diketahui Swiss menerapkan sistem PPS dengan model global budget dan melakukan reformasi sejak 2012. Dalam sistem pembayaran tersebut uncertainty in demand/ output tidak akan dibayar. Ketidakpastian output pelayanan dianggap merupakan bagian dari manajemen RS yang terkait dengan input RS dan biaya-biaya yang mempengaruhinya. Rumah sakit perlu perencanaan yang baik terkait dengan produk layanan yang diharapkannya. Jika input (tenaga medik) di RS mempunyai kualitas yang kurang baik, maka para pasien akan readmission atau kembali bolak balik ke RS atau pasien akan menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan. Hal ini akan mempengaruhi biaya RS. Sebaliknya jika input terlalu tinggi (high qualified), maka RS harus meng-cover berbagai biaya untuk mempertahankan SDM tersebut. Sudah pastihal tersebut mempengaruhi biaya yang timbul di RS (misalnya pemberian jasa medik yang tinggi untuk membuat dokter tersebut tetap di RS tersebut). Kemampuan manajemen RS untuk mengelola hal ini sangat mempengaruhi efisiensi RS.

Topik ketiga mengenai potensi fraud yang terkait dengan cream skimming. Krishna Rao, orang India yang menjadi associate professor di John Hopkins membahas masalah ini dengan makalah yang berjudul : Do for profit hospitals select profitable patients in prospective payment environtment? Evidence from the Aarogyasri insurance scheme in India. Dr Rao mengambil kasus bedah jantung yang biayanya sangat signifikan. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa rerata LOS lebih tinggi di public hospital dibanding private hospital. Rerata skor keparahan penyakit untuk CABG lebih tinggi di RS pemerintah namun tidak ada beda untuk prosedur angioplasty. Kesimpulannya RS swasta cenderung memilih pasien yang lebih sehat dan cenderung lebih efisien dalam pemakaian sumber daya dibanding RS pemerintah.

Topik keempat lebih me-review implementasi sistem pembayaran case based payment system for hospital funding in Asia Pasifik. Soonman Kwon, profesor dari Seoul National University, salah satu health economist yang cukup terkenal di Asia membawakan makalah ini. Ada tujuh negara yang di-review, yaitu Singapore, Taiwan, Thailand, Jepang, Korea, New Zealand dan Australia. Salah satu prasyarat untuk mendukung sistem pembayaran ini berjalan baik adalah dengan melakukan monitoring secara rutin dan memadai serta menaitkan dengan dampak kualitas pelayanan kesehatan, Beberapa negara yang sudah mengkaitkan sistem pembayaran prospektif (DRG) dengan kualitas pelayanan adalah Korea, Taiwan, Thailand dan Australia. Metodenya dengan melakukan monitoring rutin kajian kajian terhadap berbagai dimensi yang terkait dengan kualitas. Hampir setiap negara yang menerapkan sistem DRG ini menerapkan beberapa tahapan, seperti di Korea, Japan, Filipina dan Tiongkok melakukan pentahapan dalam membuat klasifikasi kategori penyakit. Di Thailand bertahap memasukkan gaji dan biaya-biaya lain di RS kedalam sistem pembayaran DRG. Sementara di Korea bertahap dalam partisipasi RS masuk kedalam sistem tersebut. Menariknya di dalam salah satu slidedisebut Indonesia: Failed !!

Pernyataan tersebut membuat keingintahuan untuk mengetahui latar belakang statement tersebut (walaupun saya tidak terlalu terkejut juga). Dari diskusi lebih lanjut, Prof Kwon menyatakan bahwa tidak seharusnya Indonesia sebagai negara yang besar langsung menerapkan sistem DRG dengan single rate untuk seluruh RS. Itu hal yang sangat berisiko menurut Kwon. Sebaiknya Indonesia mengadopsi sistem negara lain yang mirip dengan kondisi di Indonesia dan secara bertahap menyesuaikan sesuai dengan kondisi di Indonesia. Menurutnya , Indonesia tidak perlu membangun sistem DRG sendiri seperti di Taiwan, karena costy dan waktunya akan sangat lama sekali. Salah satu hambatan di Indonesia adalah belum adanya standar nasional yang menjadi acuan, sehingga sulit untuk penetapan tarif yang tepat dan memadai. Mungkin hal ini akibat dari kebijakan desentralisasi yang diterapkan di Indonesia, sehingga data-data sering kali sulit di dapatkan.

Kesimpulan dari sesi ini adalah :

  1. Trend pembayaran RS ke depan adalah dengan global budget yang berbasis dari perhitungan DRG (per kasus). Karena berbagai pengalaman membuktikan bahwa pembayaran DRG yang secara teknis mendorong efisiensi ternyata tidak bisa mendorong efisiensi di tingkat makro. Oleh karena itu berbagai negara mulai bergerak untuk menerapkan global budget untuk menahan kenaikan biaya di level makro.
  2. Diperlukan skill management RS yang baik untuk dapat mengelola sumber daya di RS dan mendorong efisiensi di RS dalam sistem pembayaran prospektif.
  3. Kunci suscess implementasi pembayaran berbasis kasus (case based payment) adalah penerapan proses penetapan tarif termasuk peran stakeholder terkait denganproses tersebut. Kapasitas dan kesiapan purchaser (BPJS) dan provider sangat menentukan hal ini.
  4. Beberapa negara menerapkan kombinasi sistem global budget di level makro (nasional) dengan pembayaran DRG untuk dapat mengendalikan biaya pelayanan di RS. Pembayaran DRG saja tidak akan mampu mendorong efisiensi.

 back Kembali ke Index Reportase

 

Reportase lainnya

the-8th-indonesian-health-economist-association-inahea-biennial-scientific-meeting-bsm-2023The 8th Indonesian Health Economist Association (InaHEA) Biennial Scientific Meeting (BSM) 2023 25-27 Oktober 2023 InaHEA BSM kembali diadakan untuk...
gandeng-ugm-dinas-kesehatan-dan-keluarga-berencana-kabupaten-sampang-adakan-pendampingan-tata-kelola-program-kesehatan-di-kabupaten-sampang Kamis, 6 April 2023, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Sampang bersama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM...
diseminasi-buku-petunjuk-pelaksanaan-layanan-hiv-aids-dan-infeksi-menular-seksual-ims-dalam-skema-jknReportase Diseminasi Buku Petunjuk Pelaksanaan Layanan HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) dalam Skema JKN 22 Desember 2022 dr. Tri Juni...